Warga Bali di Dumoga Arak Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh yang diarak oleh warga
Bolmong,Vox Sulut- Hari raya Nyepi, sangat sakral bagi umat Hindu. Buktinya, ribuan umat Hindu di desa Mopuya, Werdi Agung, dan Kembang Merta, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolmong menggelar beberapa upacara keagamaan, Senin (11/03) lalu.
Mengarak ogoh-ogoh yang merupakan rangkaian ritual Tawur Agung Kesanga menyambut Hari Raya Nyepi 1935 Saka. Ogoh-ogoh merupakan karya seni patung dalam perwujudan, Bhuta Kala yang digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan.
Sekitar pukul 16.30 Wita, umat hindu mulai berdatang di lapangan desa Mopugat. Umat Hindu yang merupakan warga transmigrasi dari Bali sekitar tahun 1970-an ini, datang mengusung ogoh- ogoh buatan mereka sendiri. Dalam pembuatan ogoh-ogoh ini, mereka menghabiskan biaya Rp 1 juta sampai Rp 6 juta.  Setelah 20-an ogoh-ogoh ini terkumpul, Camat Dumoga Utara, Ketut Kolag langsung melepas pawai ogoh-ogoh ini untuk mengitari desa mereka. Setelah berputar-putar, ke 20-an ogoh-ogoh tersebut dibakar sebagai pertanda kemenangan atas sifat-sifat jahat. Ogoh-ogoh merupakan simbol dari kesombongan, angkara murka dan keserakahan.
Ketut Sukadi, warga Mopuya mengatakan, ogoh-ogoh ini merupakan rangkaian kegiatan menjelang menyambut tahun baru saka. “Pertama adalah permohonan air suci untuk membersihkan alam semesta atau disebut Melasti,” ucap dia.
Kegiatan selanjutnya, kata Ketut Sukadi adalah Taur Kesanga dengan pawai Ogoh-ogoh. Dan puncaknya adalah Nyepi yaitu Mulat Sarira, yakni perenungan diri atau instropeksi. Pada prosesi ini umat Hindu melaksanakan catur brata yakni, amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melaksanakan kerja fisik), amati lelanguan (tidak menikmati hiburan), amati lelungaan (tidak bepergian). "Kami melakukan catur brata selama satu 24 jam. Mulai pada pukul 6.00 wita dan berakhir pada pukul 6.00 keesokan harinya. Setelah itu, kami juga mengadakan silaturahmi," kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bolmong ini.
I Nyoman Nuarta, Wakil Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia Sekretariat Desa Mopugad, mengatakan ogoh-ogoh itu dilakukan sore hari menjelang malam. Waktu ini dikenal dengan Sande Kala. Saat itu biasanya hal-hal yang negatif muncul seperti munculnya Buta Kala yang secara harfiah berarti waktu yang tidak melihat. "Ada saatnya kita tidak bisa melihat kebenaran. Pada saat itu Buta Kala itu dikembalikan ke alam bukan dimusnahkan karena memang tidak bisa dimusnahkan. Bila diartikan, kegiatan ini membangungun kembali keseimbangan dan keselarasan," kata Nuarta.(tim)
Share this post :

Post a Comment

 
© 2013 - Fokus Sulut | Tabel Berita - Manado - Bitung - Tomohon - Kotamobagu - DPRD - Politik - Pemprov - Olahraga - Selebriti | Redaksi
| Desainer by Fokus Manado - Blogger